Wednesday, 6 January 2016

Lelah tetaplah Lelah

Posted by Nana W at 22:47 0 comments
Pada malam yang hampa, kusandarkan sgala rindu dan lelah yang membuatku terpuruk. Jarak lagi-lagi membuatku seakan ingin menyerah dan berbalik. Bahagia dan tawa yang seakan menjadi begitu sulit untuk digapai, menjadikan hati ini perlahan kian melemah. Mimpi-mimpi dan harapan yang telah disusun, perlahan mulai kehilangan arah. Barangkali ini memang ujian. Untuk tau seyakin apa mimpi-mimpi itu aku genggam. Atau mungkin hanyalah lelucon, untuk sekedar mempermainkan perasaan.
Sekali lagi jarak, menjadikan air mata bercucur tanpa arti di tengah keheningan malam. Pada siapa lagi rindu harus pulang, jika bahkan pemiliknya kian acuh tuk sekedar menyapa. Dan pada harapan yang mana lagi, mimpi-mimpi itu harus ku tanam agar tak lagi lepas perlahan.
Kehampaan yang kian menghimpit, adalah awal dari segala badai petaka yang menanti. Entah apalagi yang harus kucumbu, setelah rindu perlahan memudar berganti kegelisahan. Cinta? Masih adakah cinta jika peduli bahkan Kian menguap bagai air sisa hujan yang terkena terik matahari.
Barangkali memang diam, yang menjadi jawaban atas semua permasalahan. Bukan karna tak lagi ada kata. Tapi untuk apa bicara, jika yang keluar dari bibir hanyalah sembilu tajam yang siap mengoyak hati. Untuk apa bicara, jika nyatanya itu hanyalah aroma kopi yang akan hilang saat mulai dingin.
Memang, dari sekian banyak yang dilalui tak akan ada yang berbuah sia. Tapi lelah, tetaplah lelah. Dan detik terus bergulir tanpa bisa dihentikan.

Monday, 4 January 2016

Selamat datang 2016

Posted by Nana W at 22:06 0 comments

Hari ke empat di tahun baru, 2016. Libur panjang natal dan tahun baru akhirnya kelar. Waktunya balik ke dunia nyata, menunaikan kewajiban buat ngejar toga. Harapan-harapan baru di tahun ini udah mulai terdaftar dengan rapi di sebuah buku catatan. Mimpi-mimpi yang selalu kusemogakan, cemas yang tanpa lelah selalu aku singkan.
Seperti tahun-tahun biasanya, akhir tahunku selalu kulalui dengan tak pernah jauh dari bantal dan kasur. Beberapa kali ditemani air mata dan rindu. Beberapa lainnya ditemani sepi yang membunuh. Meski sempat beberapa kali juga kulewati dengan seseorang.
Tahun baru hanyalah sebuah angka. Jika yang kita lakukan hanya terus mengulang kesalahan yang sama. Tahun baru hanyalah kesenangan sesaat, jika kita tak bisa menikmatinya dengan terus memperbaiki kesalahan dan kekeliruan.
Apapun yang terjadi di depan, Tuhan tak akan membiarkan kita melaluinya sendirian. Tetaplah tegar, tersenyum dan angkat kepalamu. Jangan pernah membiarkan kesedihan dan pikiran-pikiran buruk datang memporak-porandakan keceriaanmu.
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai kita. Semoga kesabaran tak pernah lelah menemani saat cobaan datang berkunjung. Semoga kemudahan tak pernah hilang saat kesulitan datang menyapa.

Friday, 25 December 2015

Pagi di desa

Posted by Nana W at 06:33 0 comments
Tak seperti hari-hari biasanya di Semarang, saat di rumah aku selalu sukses bangun pagi. Udara dingin yang sejuk, bercampur aroma khas pagi pedesaan. Wangi masakan yang menguar dari balik dapur, selalu menjadi hal yang ku rindukan. Tak seperti di Semarang, saat di rumah ketenangan begitu mudah didapat. Terlebih tak pernah ada bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang setiap saat. Kabut sesekali masih sering muncul.
Persawahan masih luas membentang, dengan hijau padi yang terlihat belum lama di tanam memenuhi tiap petaknya. bukit-bukit berjajar dengan kokohnya. Berwarna biru dipenuhi pohon-pohon kekar. Sungai yang terus menggerogoti tebing saat musim hujan tiba, kini juga mengalir deras. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang berjalan dengan kaki telanjang memikul cangkul dan bekal di gendongan].
Sejauh ini alam di desa yang baru kutempati hampir delapan tahun ini masih asri terjaga. Udara yang sejuk, alam yang hijau. Meski di dekat kotanya, sawah-sawah kini perlahan mulai berubah menjadi pemukiman dan pertokoan. Entah akan menjadi seperti apa dan bagaimana alam disini nantinya, sepuluh - dua puluh tahun kemudian. Bukan tak mungkin, anak cucuku hanya mewarisi keindahan yang aku lihat dan aku rasakan hanya melalui sebuah foto.
Jaman memang semakin maju, teknologi  modern juga terus  berkembang. Tapi tetap saja, manusia takkan pernah merasa puas.

Wednesday, 23 December 2015

Selamat Hari ibu

Posted by Nana W at 22:38 0 comments

Untuk wanita hebatku, matahariku, bulanku. Wanita tangguh yang saat seusiaku sudah menjadi single parent, selamat hari ibu. Terimakasih untuk cinta kasih yang tak pernah lekang dimakan waktu. Untuk segala bentuk pengertian, kesabaran dan keikhlasan melahirkan, membesarkan dan merawat anak gadismu yang bandel ini. Tak ada yang bisa kuberi di hari istimewa ini selain doa disepanjang hari, ditiap sujud dan hembusan nafas. Tiga tangkai mawar kuning dan sebuah kado kecil hanyalah simbolis di hari istimewa ini. Karna bahkan dunia dan semesta seisinya pun takkan pernah cukup untuk membayar segala perjuangan dan pengorbanan yang telah kau lakukan selama ini.
Untuk wanita hebat yang kusemogakan menjadi ibu keduaku, selamat hari ibu. Terimakasih selalu menginspirasi untuk menjadi manusia yang jujur, wanita yang tangguh, dan istri yang baik. Terimakasih telah melahirkan, membesarkan dan mendidik seseorang yang kusemogakan menjadi imam di keluarga kecilku kelak.
Dan selamat hari ibu juga untuk seluruh ibu dan calon ibu di dunia. Semoga tiada kelelahan dalam tiap proses hidup yang kita lewati, terus dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, agar layak menjadi wanita seutuhnya dan menjadi panutan dalam keluarga kecil nanti. Tuhan memberkahi langkah kita semua.

Saturday, 19 December 2015

Perempuan itu, tunangannya

Posted by Nana W at 23:44 0 comments
Siang itu, matahari tak begitu terik. Tapi cukup sulses membuat keringat mengucur deras. Aku menantinya dalam cemas, di ruang tunggu bagian depan kantornya. Dengan sepaket box lunch berwarna hitam. Lima menit berlalu, ia datang dengan seragam kantornya berwarna biru muda. Seperti biasa, ia terlihat menawan. Senyumnya yang begitu manis mengembang di bibir tipisnya, bertambah dengan lesung pipi yang tak begitu dalam.  Ia menyapaku. Menanyakan kabarku. Sesekali mengusap lembut pipiku, dengan tatapan sendunya yang selalu berhasil membuatku tersipu. Tak lama setelah menghabiskan isi kotak makan yang kubawa, ia kembali masuk ke dalam kantornya. Jam kerjanya masih berlanjut hingga empat jam kedepan.
Aku kembali mengingat beberapa hal manis yang telah aku lalui dengannya. Senyum, selalu berhasil mengembang dengan begitu lebar di bibirku, saat mengingat semua tentangnya. Ia selalu bersikap manis, memperlakukanku dengan begitu baik. Rasa itu terus saja tumbuh dengan begitu liar, tanpa bisa aku kendalikan.
Aku ingat, bagaimana ia dengan begitu sabar menyuapiku saat aku sakit. Menemaniku ke kafe di luar kota, hanya karna aku merindukan coklat panas kesukaanku. Mengirimiku eskrim dan coklat saat suasana hatiku sedang gundah. Ia bahkan tiba-tiba mengetuk pintu kamarku saat mendengar suara tangisku di telepon.
Aku tak pernah menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benakku. Kenapa ia selalu memperlakukanku dengan begitu baik? Kenapa ia selalu ada saat aku membutuhkan sandaran? Kenapa ia tak pernah membiarkanku sendirian menghadapi hal-hal buruk dalam hidupku? Adakah aku di hatinya, seperti ia yang slalu ada dan menjadi satu-satunya yang ada dalam hatiku? Aku bahkan tak bisa membaca makna dari tatapan hangatnya.
Menit-menit berlalu dengan begitu lambat. Tapi tetap saja. Aku setia menantinya. Berjalan-jalan, mengelilingi taman dekat kantornya. Menikmati udara sejuk, dengan sedikit keramaian. Mataku kemudian tertuju pada seorang perempuan yang duduk bersama teman-temannya. Mereka tertawa. Sembari menikmati jajanan yang menumpuk di depan mereka. Perempuan itu, cantik dengan hijab menutupi kepalanya. Bertambah manis dengan tawa riuh yang menghiasi bibirnya.
Wajahnya, senyumnya, tawanya. Aku seakan tak asing dengan segala yang ada dalam diri perempuan itu. Ia seperti begitu dekat denganku, tapi juga asing dalam waktu bersamaan. Ohh, ya. Kini aku mengingatnya. Mengingatnya dengan begitu jelas. Wajah itu, adalah wajah yang aku lihat di foto berpigura yang ada di kamar seseorang yang sedang aku tunggu. Tawanya, adalah tawa yang sama dengan yang aku lihat di layar ponsel seseorang yang slalu ada dalam pikiranku. Perempuan itu, adalah tunangan dari lelaki yang kini sedang aku tunggu.
Hatiku kini benar-benar hancur. Sebegitu bodohnya kah aku, hingga dengan begitu sabar menanti seseorang yang di jari manisnya bahkan telah bersemat cincin perak. Sebegitu menyedihkannya kah aku, hingga mengharap perasaan yang sama dari seorang lelaki yang telah bertunangan.
Pertanyaan lain yang kini muncul dalam benakku adalah siapakah aku dalam hatinya?! Salahkah aku jika menyalah artikan segala kebaikannya padaku selama ini?! Salahkah aku mengartikan tatapan hangatnya padaku?! Berdosakah aku, hingga akhirnya perasaan itu tumbuh subur dalam hatiku, melahirkan harapan-harapan untuk bisa memilikinya dan hidup bahagia dengannya.
Aku mencintainya dan tak sanggup bila harus kehilangannya. Tapi aku juga tak sanggup jika harus berbahagia di atas luka dan air mata perempuan lain.
Oh Tuhan, kenapa Hidupku begitu menyedihkan. Akhir kisah cintaku yang begitu tragis, bahkan sebelum aku memulainya. Sebegitu menyedihkannya, hingga aku terbangun dari tidurku dengan pipi basah berlinang air mata.
Terimakasih Tuhan, semua itu hanyalah mimpi buruk dalam tidur panjangku malam ini.

Terimakasih, jarak

Posted by Nana W at 22:39 0 comments

Akan selalu ada, saat dimana kita merasa jengah dan bosan dengan keadaan yang ada. Saat dimana kita mulai berharap ada hal-hal baru yang bisa membuat suasana hati kembali membaik.
Hujan sepanjang hari ini membuat begitu banyak rindu pulang dalam dada. Temu yang harus dinanti dengan sabar, membuat beban dalam dada terasa semakin menghimpit. Hal-hal yang dulu aku pikir hanyalah rutinitas yang membuat bosan, kini justru menjadi hal yang amat ingin kembali aku lakukan.
Pertemuan-pertemuan jelang tengah malam, uap kopi yang menguar dari cairan hitam dalam cangkirnya, obrolan-obrolAn yang tak jelas juntrungannya, canda tawa riuh yang sering kali mengganggu kedamaian sekitar, hingga hujan dinihari yang memperpanjang masa pertemuan di sebuah kedai kopi. Kini, semua hanya tersisa dalam bayang-bayang ingatan, dalam lembar-lembar foto album yang sengaja kusimpan dengan rapi. Berganti dengan obrolan dalam pesan singkat, berteman rindu yang semakin hari semakin bertambah kuat.
Ada kalanya aku berpikir jarak jauh lebih baik dari pertemuan tiap hari yang justru lebih rentan mendatangkan bosan. Meski tak jarang, jarak pula yang menimbulkan keretakan dalam hubungan. Paham yang bersisihan, cemburu yang tak beralasan, hingga minimnya komunikasi karna perbedaan jam tidur satu sama lain.
Tak pernah ada curiga barang sedikitpun, karna aku percaya dia tak sebrengsek para lelaki di masa laluku. Aku percaya, cinta dan setianya tak layak diragukan. Kedewasaan satu sama lain membuat aku dan dia begitu menjunjung tinggi kepercayaan. Tak ada hal yang perlu disembunyikan, saat satu sama lain mengharap keindahan perjalanan cinta menuju mimpi yang dinanti.
Terimakasih, jarak. Kau membuat hubunganku dengannya menjadi lebih berwarna. Kau membuat temu menjadi hal yang begitu kami nanti.

Friday, 18 December 2015

Laki-laki bersarung

Posted by Nana W at 12:16 0 comments
Dari jaman kecil, aku sukaa banget liat cowok bersarung. Awalnya sih karna terbiasa liat ayah pake sarung. Jadi kebawa sampe skarang, tiap liat laki bersarung bawaannya pengen "gendong adek, baaang! Gendoong adeeek!" Wkwk
Jadi, pas jaman kecil entah umur berapa sampe SD kelas 5an kalo ayah lagi pulang, aku sering nginep di rumah eyang. Terus bubu bareng sama ayah. Sepanjang malem dari maghrib sampe jam 6 pagi biasanya ayah slalu pake sarung. Naah pas bubu, aku tuh paling seneng dikelonin. Dipeluk dari belakang. Masuk ke sarung ayah. Rasanya nyamaaan bangeet. Tempat favorit jaman masih kecil. Hehe sampe sekarang, kalo tidur sama mbahh atau sama ibu, pasti minta peluk. Wkwk
Back to lelaki bersarung, aku suka merhatiin ke jalan tiap hari jumat siang. Liat orang sliweran pulang dari masjid. Kek ada something yang bikin aku selalu seneng merhatiin laki-laki pake sarung. Apalagi atasnya pake baju koko, peci, selendang sajadah di bahu. Nyenengin dan bikin adem. Hehe kesannya tuh bersahaja, tapi tetep elegan. Pokoknya, kalo kata Iis Dahlia mah apalah apalah banget. Cucok! <3<3
Apalagi pas tau, kalo pake sarung itu bagus buat kesehatan alat reproduksi laki-laki. Beuuhhh makin sukaaa n makin ngedukung laaah gerakan laki-laki bersarung di malam hari. Haha jadi ngayal, nanti kalo udah nikah mas misua suruh pake sarung tiap malem aja kali yaaa. kan biar selalu "sehat" Wkwkwk
Betewe, selamat menunaikan ibadah sholat jumat buat semua muslim di seluruh dunia. Buat para calon kepala rumah tangga, calon ayah. Spesial, buat my Dav yg di barat sanaa :*
 

Tumpah Ruah Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting