kau tau, masing-masing orang punya jalannya sendiri dalam menjalani kehidupan. lingkaran hidup yang telah mereka lalui, membentuk bagaimana caranya berpikir dan bersikap sekarang. Atau bahkan, apa yang tengah ia alami menjadi bagian terpenting dalam hidupnya kelak.
Dan aku, aku hanyalah seorang anak perempuan yang terbiasa melakukan segalanya sendiri. Aku, hanyalah seorang anak perempuan sederhana yang tak terlalu memikirkan penampilan ataupun dandanan. Aku hanya seorang anak perempuan yang terlalu nyaman dengan celana denim dan kaos oblong, dengan tas ransel di punggung.
Aku, adalah anak perempuan yang kini berumur dua puluh tiga. Tak remaja lagi, memang. Perjalanan tak menyenangkan selama empat tahun terakhir dalam hidupku, membuatku mulai terbiasa dengan luka dan kegagalan. Aku juga mulai terbiasa dengan ejekan dan cemoohan dari orang-orang yang hanya tau nama dan rupaku. bahkan mereka yang tak pernah bertatap mata langsung denganku.
Kau tau, ada begitu banyak hal yang tak seharusnya kau campuri dalam kehidupan orang lain. Apalagi hidupku. Kau ingat caramu menghakimiku tentang bagaimana aku menaruh sebagian masa depanku di tangan lelaki yang tak pantas mendapatkannya. Yaaa, yang harus kau tau adalah, bahwa seseorang memang harus mengalami kekeliruan dalam hidupnya agar lebih berhati-hati dalam mengambil langkah hidup kedepannya. Dan kau tau?? pada akhirnya, caramu menghakimi langkah hidup seseorang justru akan membawamu pada cara yang sama, dengan ataupun tanpa kau sadari. Atau dengan kata lain kau juga akan melakukan kekeliruan yang sama. Jika bukan sekarang, mungkin saja nanti. Di masa depan. Yang harus kau ingat adalah Hiduup itu adil. Apa yang kau tanam, itu pulalah yang akan kau petik.
Berhati-hatilah dalam berucap. Tak hanya lisan, tapi juga jarimu dalam membuat status di media sosial. Kelak, kedewasaan dalam pola pikirmu akan membuatmu jauh lebih paham dengan apa yang kusampaikan dalam tulisan ini.
Monday, 7 March 2016
Wednesday, 2 March 2016
Terimakasih untuk luka dan airmata
jam dua dinihari, menuju setengah tiga. Udara Semarang akhir-akhir ini emang sedang dingin-dinginnya. Dan tentu saja, sukses bikin aku begitu malas untuk beranjak. Terlebih lagi, Beberapa hari ini aku mengalami kesulitan tidur saat malam, dan kesulitan bangun saat pagi. Yaa dan akhirnya, tidur hampir subuh dan bangun mendekati dzuhur.
Saat terjaga di suasana hening dinihari seperti ini, banyak hal datang silih berganti dalam pikiran. Terkebih tentang ucapan-ucapan menyakitkan di masa lalu, seringkali menghantuiku. Meski aku telah mencoba memaafkannya, tapi rasa sakit itu tak pernah hilang. Aku paham betul, tak seharusnya ucapan orang yang tak mengenalku menjadi pikiran dan mengganggu hidupku. hanya saja, aku begitu habis pikir pada mereka. Bagaimana mungkin orang bisa dengan begitu mudahnya menghakimi orang lain yang bahkan mereka tak pernah duduk dan mengobrol bersama. Bagaimana mereka Bisa mengejek seseorang dengan begitu dalamnya hanya dengan melihat bentuk tubuhnya. Bagaimana bisa seseorang menyakiti orang lain yang bahkan tak pernah mengusik hidupnya.
Entah apa yang ada dalam diri mereka hingga mereka seakan tak punya hati dan pikiran. Apa mereka menganggap diri merekalah yang paling sempurna, hingga dengan begitu mudahnya menghakimi sesuatu yang bahkan mereka tak mengerti. Jika mereka punya setidaknya sedikit saja hati dan pikiran, tentu mereka tak akan begitu. Bahwa bagaimana seseorang hidup adalah hasil dari apa yang mereka telah lewati. Kita tak pernah tau kesulitan, kesakitan dan penderitaan seperti apa yang telah seseorang lalui hingga sampai di titik dimana orang lain kemudian menghakiminya.
Untuk orang-orang yang telah menyakitiku, terimakasih untuk segala luka dan airmata yang telah kalian beri. Aku menjadi sekuat sekarang, tak lain adalah karena kalian. Aku tak tau kesalahan apa yang telah aku lakukan hingga kalian begitu membuatku terluka begitu dalam. Aku bahkan tak pernah masuk dalam kehidupan kalian, tapi kalian masuk dalam lingkaranku hingga menjadi mimpi buruk dalam waktu yang panjang. Tapi apapun itu, aku tak akan membalas semua yang telah kalian lakukan. Karena aku tak seperti kalian. Aku hanya percaya, bahwa tangan Tuhan yang akan bekerja.
Saat terjaga di suasana hening dinihari seperti ini, banyak hal datang silih berganti dalam pikiran. Terkebih tentang ucapan-ucapan menyakitkan di masa lalu, seringkali menghantuiku. Meski aku telah mencoba memaafkannya, tapi rasa sakit itu tak pernah hilang. Aku paham betul, tak seharusnya ucapan orang yang tak mengenalku menjadi pikiran dan mengganggu hidupku. hanya saja, aku begitu habis pikir pada mereka. Bagaimana mungkin orang bisa dengan begitu mudahnya menghakimi orang lain yang bahkan mereka tak pernah duduk dan mengobrol bersama. Bagaimana mereka Bisa mengejek seseorang dengan begitu dalamnya hanya dengan melihat bentuk tubuhnya. Bagaimana bisa seseorang menyakiti orang lain yang bahkan tak pernah mengusik hidupnya.
Entah apa yang ada dalam diri mereka hingga mereka seakan tak punya hati dan pikiran. Apa mereka menganggap diri merekalah yang paling sempurna, hingga dengan begitu mudahnya menghakimi sesuatu yang bahkan mereka tak mengerti. Jika mereka punya setidaknya sedikit saja hati dan pikiran, tentu mereka tak akan begitu. Bahwa bagaimana seseorang hidup adalah hasil dari apa yang mereka telah lewati. Kita tak pernah tau kesulitan, kesakitan dan penderitaan seperti apa yang telah seseorang lalui hingga sampai di titik dimana orang lain kemudian menghakiminya.
Untuk orang-orang yang telah menyakitiku, terimakasih untuk segala luka dan airmata yang telah kalian beri. Aku menjadi sekuat sekarang, tak lain adalah karena kalian. Aku tak tau kesalahan apa yang telah aku lakukan hingga kalian begitu membuatku terluka begitu dalam. Aku bahkan tak pernah masuk dalam kehidupan kalian, tapi kalian masuk dalam lingkaranku hingga menjadi mimpi buruk dalam waktu yang panjang. Tapi apapun itu, aku tak akan membalas semua yang telah kalian lakukan. Karena aku tak seperti kalian. Aku hanya percaya, bahwa tangan Tuhan yang akan bekerja.
Categories
Kopi Cinta,
Perihal Hati yang Patah,
Sebuah cerita
Sunday, 14 February 2016
Apa itu Allodoxaphobia
Pagi ini gerimis masih setia mengguyur, seperti hari-hari sebelumnya. Aku duduk dalam keheningan di tengah keramaian canda tawa dan kegelisahan mahasiswa-mahasiswa pejuang skripsi di lobi kampus. Selalu ada hal yang menarik dari setiap obrolan yang aku simak. Seperti pagi ini, misalnya.
Tiga orang perempuan berhijab, yang aku prediksi baru usai KKn. Mereka terlibat obrolan yang lebih didominasi oleh satu orang, sementara dua orang lain lebih banyak ber"ohh" dan beberapa kali menimpali. Sebut saja Tumini, si pembicara. Dengan logat medok yang kental, dia bercerita tentang ketakutannya pada opini orang lain tentang dirinya. Mulai dari rasa sebelnya pada ibu kost yang hobi komen tentang segala hal yang ia lakukan, hingga keluarga besarnya yang seolah tak bisa diam menahan hasrat untuk menceritakan sgala hal tentang dirinya.
Yaa, memang susah hidup di tengah masyarakat yang senang mengomentari orang lain. Baik buruknya hal yang kita lakukan, orang-orang akan tetap berkomentar. Kita hanya punya dua tangan, jadi tak akan cukup untuk menutup mulut semua orang. Tugas kita, cukup menutup kuping untuk segala apa yang tak ingin kita dengar.
Oh iya. Ketakutan akan komentar orang lain terhadap diri kita, ternyata ada istilahnya lhoo. Namanya Allodoxaphobia. Terdengar sedikit aneh, memang. Tapi nyatanya tak sedikit orang di sekitar kita yang memiliki phobia ini. Hanya saja, kebanyakam dari mereka lebih memilih diam, karena tak ingin dikomentarin orang lain.
Kalo buat aku sendiri, terserah orang mau berkomentar apa. Itu hak mereka. Kewajibanku hanya menjalani hidup yang singkat ini dengan sebaik mungkin, sebahagia mungkin. Karna kita memang tak terlahir untuk menyenangkan semua orang.
Tiga orang perempuan berhijab, yang aku prediksi baru usai KKn. Mereka terlibat obrolan yang lebih didominasi oleh satu orang, sementara dua orang lain lebih banyak ber"ohh" dan beberapa kali menimpali. Sebut saja Tumini, si pembicara. Dengan logat medok yang kental, dia bercerita tentang ketakutannya pada opini orang lain tentang dirinya. Mulai dari rasa sebelnya pada ibu kost yang hobi komen tentang segala hal yang ia lakukan, hingga keluarga besarnya yang seolah tak bisa diam menahan hasrat untuk menceritakan sgala hal tentang dirinya.
Yaa, memang susah hidup di tengah masyarakat yang senang mengomentari orang lain. Baik buruknya hal yang kita lakukan, orang-orang akan tetap berkomentar. Kita hanya punya dua tangan, jadi tak akan cukup untuk menutup mulut semua orang. Tugas kita, cukup menutup kuping untuk segala apa yang tak ingin kita dengar.
Oh iya. Ketakutan akan komentar orang lain terhadap diri kita, ternyata ada istilahnya lhoo. Namanya Allodoxaphobia. Terdengar sedikit aneh, memang. Tapi nyatanya tak sedikit orang di sekitar kita yang memiliki phobia ini. Hanya saja, kebanyakam dari mereka lebih memilih diam, karena tak ingin dikomentarin orang lain.
Kalo buat aku sendiri, terserah orang mau berkomentar apa. Itu hak mereka. Kewajibanku hanya menjalani hidup yang singkat ini dengan sebaik mungkin, sebahagia mungkin. Karna kita memang tak terlahir untuk menyenangkan semua orang.
Categories
ISTILAH
Thursday, 4 February 2016
Asal kau bahagia
Saat kau membicarakannya, wajahmu begitu berseri. Lebih berseri dari sinar rembulan saat purnama. Pipimu memerah seperti udang rebus, dan matamu bersinar. Mungkin itu lebih dari cukup untuk membuatku paham, sedalam apa perasaanmu padanya. Meski tak kau jelaskan sekalipun. Aku paham.
Keputusan yang kau ambil, resiko yang akan datang, dan bagaimana pemikiran orang sekitar; adalah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sosial kita. Kita memang hidup di lingkungan dimana orang-orang begitu mudah menghakimi. Berpikir dan berucap semau mereka. Hingga kebenaran mencuat ke permukaan, mereka tersadar bahwa mereka keliru. Kemudian mereka melupakannya, tanpa menyadari ucapan yang mereka lontarkan menusuk dada.
Ingatlah satu hal, bahwa apapun yang kau putuskan, pastikanlah itu jalanmu menuju bahagia. Hidup ini terlalu singkat, untuk dihabiskan dengan orang yang salah; bukan. Maksudku dengan orang yang tak lagi membuatmu bahagia. Tak usah kau pikirkan omongan orang. Fokuskan saja hidupmu pada apa yang membuatmu bahagia. Bukan mereka yang berusaha menghancurkan bahagiamu. Resiko atas keputusan yang kau ambil, akan selalu mengikuti tiap proses kehidupan yang kau jalani. Resiko yang indah, maupun yang akan berhasil membuatmu sedikit gundah. Tapi tak apa. Tandanya hidupmu berjalan dengan baik. Jangan pernah sesali apapun yang terjadi. Meski itu bukan yang kau inginkan sekalipun. Tetaplah belajar, Tuhan ingin kau lebih bersabar, dan terus menjadi besar dari hal-hal yang membuatmu gusar.
Orang-orang akan terus datang silih berganti. Tapi keluarga dan sahabat akan terus menemani. Dalam susah ataupun senangmu. Doa terbaik mereka slalu untukmu, kebahagiaanmu.
Keputusan yang kau ambil, resiko yang akan datang, dan bagaimana pemikiran orang sekitar; adalah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sosial kita. Kita memang hidup di lingkungan dimana orang-orang begitu mudah menghakimi. Berpikir dan berucap semau mereka. Hingga kebenaran mencuat ke permukaan, mereka tersadar bahwa mereka keliru. Kemudian mereka melupakannya, tanpa menyadari ucapan yang mereka lontarkan menusuk dada.
Ingatlah satu hal, bahwa apapun yang kau putuskan, pastikanlah itu jalanmu menuju bahagia. Hidup ini terlalu singkat, untuk dihabiskan dengan orang yang salah; bukan. Maksudku dengan orang yang tak lagi membuatmu bahagia. Tak usah kau pikirkan omongan orang. Fokuskan saja hidupmu pada apa yang membuatmu bahagia. Bukan mereka yang berusaha menghancurkan bahagiamu. Resiko atas keputusan yang kau ambil, akan selalu mengikuti tiap proses kehidupan yang kau jalani. Resiko yang indah, maupun yang akan berhasil membuatmu sedikit gundah. Tapi tak apa. Tandanya hidupmu berjalan dengan baik. Jangan pernah sesali apapun yang terjadi. Meski itu bukan yang kau inginkan sekalipun. Tetaplah belajar, Tuhan ingin kau lebih bersabar, dan terus menjadi besar dari hal-hal yang membuatmu gusar.
Orang-orang akan terus datang silih berganti. Tapi keluarga dan sahabat akan terus menemani. Dalam susah ataupun senangmu. Doa terbaik mereka slalu untukmu, kebahagiaanmu.
Categories
Kopi Cinta,
Perihal Hati yang Patah,
Sebuah cerita
Monday, 1 February 2016
Sedikit lagi
Hujan terus saja turun tanpa henti. Langit penuh dengan awan hitam. Kelam kian jelas menghampiri, sementara wangi debu yang tandus bercampur air tak lagi menyapa. Aku mulai risau dengan harapan yang kian menjadi semu. Tak adakah secercah mentari yang menyembulkan senyum?! Mata ini mulai gersang.
kubuka kembali album yang telah lama ku acuhkan. Kenangan itu masih melekat dalam ingatan. Begitu jelas tergambar. Hari-hari dimana hanya air mata yang mampu menjelaskan segala luka dalam dada. Luka yang tak berdarah, namun begitu nyata terasa. Saat-saat buruk itu bahkan telah kulewati bertahun-tahun lalu. Tertinggal jauh di belakang.
Cinta yang lain telah tumbuh subur, di bagian dada yang lain. Seperti bunga-bunga yang mekar saat musim semi. Seperti rumput hijau di lapangan merah desa kelahiranku. Tapi sepetak kecil ruang yang lain, seperti terkungkung kaca. Air hujan bahkan tak pernah turun, walau hanya setetes. Aku mulai lelah mencoba menghancurkan kaca itu. Entah apa yang membuatnya begitu sulit untuk disingkirkan. Egokukah yang membuatnya begitu kokoh. Ketidakpeduliankukah yang mengeratkan akarnya.
Kupikir waktu akan segera menyembuhkanku dari segalanya. Aku pikir semuanya akan berlalu seperti embun yang hilang saat bertemu sang surya. Barangkali, aku hanya butuh sedikit lagi waktu untuk terbiasa. Yaa, sedikit lagi waktu.
kubuka kembali album yang telah lama ku acuhkan. Kenangan itu masih melekat dalam ingatan. Begitu jelas tergambar. Hari-hari dimana hanya air mata yang mampu menjelaskan segala luka dalam dada. Luka yang tak berdarah, namun begitu nyata terasa. Saat-saat buruk itu bahkan telah kulewati bertahun-tahun lalu. Tertinggal jauh di belakang.
Cinta yang lain telah tumbuh subur, di bagian dada yang lain. Seperti bunga-bunga yang mekar saat musim semi. Seperti rumput hijau di lapangan merah desa kelahiranku. Tapi sepetak kecil ruang yang lain, seperti terkungkung kaca. Air hujan bahkan tak pernah turun, walau hanya setetes. Aku mulai lelah mencoba menghancurkan kaca itu. Entah apa yang membuatnya begitu sulit untuk disingkirkan. Egokukah yang membuatnya begitu kokoh. Ketidakpeduliankukah yang mengeratkan akarnya.
Kupikir waktu akan segera menyembuhkanku dari segalanya. Aku pikir semuanya akan berlalu seperti embun yang hilang saat bertemu sang surya. Barangkali, aku hanya butuh sedikit lagi waktu untuk terbiasa. Yaa, sedikit lagi waktu.
Categories
Kopi Cinta,
Perihal Hati yang Patah,
Sebuah cerita
Wednesday, 6 January 2016
Lelah tetaplah Lelah
Pada malam yang hampa, kusandarkan sgala rindu dan lelah yang membuatku terpuruk. Jarak lagi-lagi membuatku seakan ingin menyerah dan berbalik. Bahagia dan tawa yang seakan menjadi begitu sulit untuk digapai, menjadikan hati ini perlahan kian melemah. Mimpi-mimpi dan harapan yang telah disusun, perlahan mulai kehilangan arah. Barangkali ini memang ujian. Untuk tau seyakin apa mimpi-mimpi itu aku genggam. Atau mungkin hanyalah lelucon, untuk sekedar mempermainkan perasaan.
Sekali lagi jarak, menjadikan air mata bercucur tanpa arti di tengah keheningan malam. Pada siapa lagi rindu harus pulang, jika bahkan pemiliknya kian acuh tuk sekedar menyapa. Dan pada harapan yang mana lagi, mimpi-mimpi itu harus ku tanam agar tak lagi lepas perlahan.
Kehampaan yang kian menghimpit, adalah awal dari segala badai petaka yang menanti. Entah apalagi yang harus kucumbu, setelah rindu perlahan memudar berganti kegelisahan. Cinta? Masih adakah cinta jika peduli bahkan Kian menguap bagai air sisa hujan yang terkena terik matahari.
Barangkali memang diam, yang menjadi jawaban atas semua permasalahan. Bukan karna tak lagi ada kata. Tapi untuk apa bicara, jika yang keluar dari bibir hanyalah sembilu tajam yang siap mengoyak hati. Untuk apa bicara, jika nyatanya itu hanyalah aroma kopi yang akan hilang saat mulai dingin.
Memang, dari sekian banyak yang dilalui tak akan ada yang berbuah sia. Tapi lelah, tetaplah lelah. Dan detik terus bergulir tanpa bisa dihentikan.
Sekali lagi jarak, menjadikan air mata bercucur tanpa arti di tengah keheningan malam. Pada siapa lagi rindu harus pulang, jika bahkan pemiliknya kian acuh tuk sekedar menyapa. Dan pada harapan yang mana lagi, mimpi-mimpi itu harus ku tanam agar tak lagi lepas perlahan.
Kehampaan yang kian menghimpit, adalah awal dari segala badai petaka yang menanti. Entah apalagi yang harus kucumbu, setelah rindu perlahan memudar berganti kegelisahan. Cinta? Masih adakah cinta jika peduli bahkan Kian menguap bagai air sisa hujan yang terkena terik matahari.
Barangkali memang diam, yang menjadi jawaban atas semua permasalahan. Bukan karna tak lagi ada kata. Tapi untuk apa bicara, jika yang keluar dari bibir hanyalah sembilu tajam yang siap mengoyak hati. Untuk apa bicara, jika nyatanya itu hanyalah aroma kopi yang akan hilang saat mulai dingin.
Memang, dari sekian banyak yang dilalui tak akan ada yang berbuah sia. Tapi lelah, tetaplah lelah. Dan detik terus bergulir tanpa bisa dihentikan.
Categories
Kopi Cinta,
Perihal Hati yang Patah,
Sebuah cerita
Monday, 4 January 2016
Selamat datang 2016
Hari ke empat di tahun baru, 2016. Libur panjang natal dan tahun baru akhirnya kelar. Waktunya balik ke dunia nyata, menunaikan kewajiban buat ngejar toga. Harapan-harapan baru di tahun ini udah mulai terdaftar dengan rapi di sebuah buku catatan. Mimpi-mimpi yang selalu kusemogakan, cemas yang tanpa lelah selalu aku singkan.
Seperti tahun-tahun biasanya, akhir tahunku selalu kulalui dengan tak pernah jauh dari bantal dan kasur. Beberapa kali ditemani air mata dan rindu. Beberapa lainnya ditemani sepi yang membunuh. Meski sempat beberapa kali juga kulewati dengan seseorang.
Tahun baru hanyalah sebuah angka. Jika yang kita lakukan hanya terus mengulang kesalahan yang sama. Tahun baru hanyalah kesenangan sesaat, jika kita tak bisa menikmatinya dengan terus memperbaiki kesalahan dan kekeliruan.
Apapun yang terjadi di depan, Tuhan tak akan membiarkan kita melaluinya sendirian. Tetaplah tegar, tersenyum dan angkat kepalamu. Jangan pernah membiarkan kesedihan dan pikiran-pikiran buruk datang memporak-porandakan keceriaanmu.
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai kita. Semoga kesabaran tak pernah lelah menemani saat cobaan datang berkunjung. Semoga kemudahan tak pernah hilang saat kesulitan datang menyapa.
Categories
Sebuah cerita
Subscribe to:
Posts (Atom)



